Tampilkan postingan dengan label MALANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MALANG. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2017

7 SUDUT MALANG TEMPOE DULU

ilovemalang – Sudut-sudut kota malang tempo doeloe sampai sekarang tetap menyimpan sejuta pesona dan ceritanya tersendiri.
Kota malang adalah kota yang indah baik di masa lalu sampai sekarang. Mulai dari kota pendidikan, kota wisata, kota kuliner…. dan masih banyak lagi. Dibalik semua keindahannya ada cerita dari masing-masing sudut kota malang. Menyambut adanya Malang Kembali atau Malang Tempo Doeloe ilovemlg memberikan informasi spesial tentang malang di masalalu. Langsung aja yuk kita bahas…….

Alun-alun Merdeka Kota Malang

alun-alun-malang-tempo-dulu via mediacenter ilovemlg | ilovemalang
alun-alun-malang-tempo-dulu via mediacenter ilovemlg | ilovemalang
Alun-alun merdeka kota malang yang kita tahu sekarang sangat berbeda dengan jaman doeloe, baik dari fungsi dan tampilannya ker. Menurut Cerita sejak jaman kerajaan singasari alun-alun ini berfungsi bukan hanya sebagai taman biasa, namun juga menjadi halaman ibukota negara yang sakral. Di jaman kolonialisme kota malang sebagai kota administrasi membuat perkembangan dari sisi pembangunan seperti gereja, hotel, dan pemerintahan bertebaran disekitar alun-alun ini. Saat ini alun-alun merdeka adalah salah satu tempat ternyaman di kota malang untuk bersantai bersama keluarga, gimana menurut umak?

Jalan Oro-oro Dowo

oro2dowo-kayutangan via mediacenter ilovemlg | ilovemalang
oro2dowo-kayutangan via mediacenter ilovemlg | ilovemalang
Jalan ini termasuk kawasan elit untuk orang Eropa di kota malang ker….. Tepatnya pada tahun 1914 penduduk kota Malang terdiri dari tiga golongan yaitu, Pribumi, Eropa, dan Timur. Wilayah dibagi berdasarkan tiga golongan tersebut, Orang-orang Eropa penyebarannya berada di barat daya alun-alun merdeka malang. Hayo, mosok pangling karo daerah iku umak?

Stadion Gajayana Malang

malang1950-stadion-gajayana ilovemlg | ilovemalang
malang1950-stadion-gajayana ilovemlg | ilovemalang
Nawak-nawak lek gak kenal stadion iki kebacut ker. Pernah menjadi markas dua tim besar asal kota malang Persema dan Arema, Stadion ini sampai saat ini masih eksis dan semakin cantik. Dipugar beberapa kali, stadion ini menjadi saksi bisu berkembangnya kota malang dari tempo dulu ke era masa kini. Tembok e tambah ruwud ya ker?

Masjid Jami’ 

malang jami ilovemlg | ilovemalang
Ya masjid yang sekarang besar dan megah itu salah satu saksi bisu berkembangnya kota malang, dari jaman kolonialisme sampai modern. Masjid Jami’ Malang dibangun 1872-1875, sangat tua sekali tentunya di tahun ini ker…. bagaimana menurut umak?

Gereja Kayoetangan

gereja kayoetangan ilovemlg
gereja kayoetangan ilovemlg
Nama gereja ini sebetulnya adalah Gereja Katolik Hati Kudus Yesus cuma memang lebih dikenal dengan Gereja kayutangan ini memiliki nilai historical. Gereja Kayutangan ini telah menjadi saksi eksistensi umat Katolik sejak masa kolonial Belanda di Malang. Salah satunya yakni dengan kehadiran pengembara Hati Kudus Yesus (HKY) yang sudah ada sejak tahun 1987. Masih tetap sama ya ker bangunannya?

Kantor Balaikota Malang

Balaikota malang terbakar ilovemlg
Balaikota malang terbakar ilovemlg
Mungkin bukan hanya bandung yang pernah menjadi lautan api, Malang juga pernah mengalaminya. Pada tanggal 29 Juli 1947 Belanda menyerbu Malang yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I. Sebelum tentara Belanda memasuki kota, gedung balaikota sudah dibumihanguskan oleh para pejuang. Bukan gedung balaikota saja yang dihancurkan, gedung-gedung penting lainnya meliputi seribu bangunan turut dibakar. Baru setelah perang kemerdekaan gedung Balaikota Malang kembali dibangun. Umak kudu Bangga Karo jasa pahlawan ker…. 🙂

Alun-alun Bundar Balaikota Malang (TUGU)

peresmian alun-alun tugu via blog.ub/idhamaya | ilovemlg

Awalnya hanya taman bundar yang dibentuk oleh gubernur belanda Jenderal Jaan Pieter Zoen Coen. Kemudian, setahun setelah kemerdekaan Indonesia hasil KMB di belanda, masyarakat Malang mendesak untuk merubah struktur pemerintahan daerahnya. Pada saat itu pula diletakkan batu pertama pertanda dibangunnya Monumen Tugu yang ditandangani oleh Mr. Soekarno dan A.G. Suroto. (by mediacentermalang)
Sudah 7 ya?
Malang itu kota indah dan bersejarah, dan syukur beberapa peninggalan sejarah masih kita temui baik di museum kota malang, ataupun bangunan-bangunan kuno saksi bisu yang bertebaran di jalanan kota malang. Semoga masih tetap terjaga hingga anak, cucu, cicit kita nanti, terutama bahasa ngalam e ker…… kudu diajari cek Itreng….. yo gak?
Jika ada informasi yang kurang tepat, tim ilovemlg menerima masukan dan me mohon maaf atas kesalahan informasi tersebut. Nantikan info 7 ala ilovemlg disetiap minggunya ya ker, dan pantengin terus ilovemlg tiap harinya untuk informasi terbaru tentang malang.

Minggu, 05 Februari 2017

ASAL USUL PERMUSUHAN AREMA VS BONEK

bonek vs aremania
oke sam kalo sebelumnya ane sudah jelaskan asal usul berdirinya arema dan juga asal berdirinya kota malang tempo doeloe sekarang ane berikan sedikit informasi tentang asal mula oerseteruan BONEK vs AREMABerdirinya Armada 86 hingga berevolusi
menjadi PS Arema pada tahun 1987
membuat konflik semakin memanas.Dalam
kompetisi Perserikatan, Persema dan
Persebaya sudah memanaskan suhu
konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti
kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas
dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra
Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992
yang mempertandingkan PS Arema
Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya
menghadirkan awalan baru sejarah konflik
Aremania-Bonek.

Arek Malang (saat itu
belum bernama Aremania) membuat ulah
di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema
Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka
dalam 6 gerbong kereta api untuk
menghindari kerusuhan dengan Bonek.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat
panas Bonek yang ada di Surabaya.
Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan
Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan
melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh
Aremania pada tahun 1996 dengan
melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari
dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di
Stadion Tambaksari kala pertandingan
Persebaya melawan Arema saat itu telah
membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-
apa dan harus menahan amarah mereka
dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan
tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI
dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta
pengawalan ketat DANDIM kota Malang
terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini
sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung
pertahanan lawan sembari menunjukkan
kesantunan Aremania dalam mendukung
tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada
kata damai dari Bonek kepada Aremania,
dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan
sekalipun. Kejadian ini dibalas oleh Bonek di
Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei
1998 dimana Aremania akan hadir dalam
pertandingan Persikab Bandung vs Arema
Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen
diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu
rombongan Aremania yang berjumlah
puluhan orang menaiki bus AC yang sudah
disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di
tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasar Senen tiba-tiba bus yang ditumpangi
Aremania dihujani batuan oleh Bonek.
Untuk menghindari jatuhnya korban,
rombongan Aremania langsung turun dari
bus untuk melawan Bonek yang
menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di
Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini
mendapat applaus dari warga setempat,
sehingga Bonek harus mundur
meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya
menandatangi nota kesepakatan bahwa
masing-masing kelompok suporter tidak
akan hadir ke kandang lawan dalam laga
yang mempertemukan Arema dan
Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim
bersama kedua pemimpin kelompok
suporter tersebut ditandatangani di Kantor
Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun
1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua
elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang
mempertemukan kedua klub kesayangan
masing-masing. Tetapi nota kesepakatan itu
tidak mampu meredam konflik keduanya.
Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan
Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu
pertandingan antara tuan rumah Gelora
Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan
Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo
dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena
dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam
pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu
berterbangan dari luar stadion menyerang
tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi
ini membuat Arema meminta kepada
panpel untuk mengamankan wilayah luar
stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke
lapangan, sementara di luar stadion justru
terjadi gesekan antara Bonek dengan
aparat. Turunnya Aremania ke lapangan
pertandingan membuat pertandingan
dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek
membuat Aremania membantu aparat
dengan memberikan lemparan balasan ke
arah Bonek. Aremania pun harus
dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk
dari kepolisian. Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek
masih berlanjut pada tahun 2006.
Kekalahan Persebaya Surabaya atas
Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam
laga first leg Copa Indonesia membuat
kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya
mengalahkan Arema Malang di stadion
Gelora 10 November Tambaksari Surabaya
membuat Bonek mengamuk. Laga yang
berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan
pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema
Malang. Kekecewaan ini mereka
lampiaskan dengan merusak infrastruktur
stadion, memecahi kaca stadion, dan
merusak beberapa mobil dan kendaraan
bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan
tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan
berkali-kali menunjukkan gambar rekaman
mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh
Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan
menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI. Rivalitas
keduanya tidak hanya hadir lewat
kerusuhan dan peperangan, tetapi juga
dengan nyanyian-nyanyian saat
mendukung tim kesayangannya.
Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti
akan menyanyikan lagu-lagu yang
menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu
yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci,
Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu
lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari
Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan
oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-
Bonek juga mereka kumandangkan kala
Arema menghadapi tim lain di Stadion
Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai
dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam
tahun baru di Surabaya oleh pemuda
berkaos hijau (oknum Bonek?) Atmosfir Malang – Surabaya Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn
dalam View from The Periphery: Football in
Indonesia, dimana ia menyebut bahwa
dinamika suporter di Indonesia sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur
Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang
amat sangat terhadap hal yang bisa
mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor
utama konflik antar suporter di Indonesia.
Kultur Jawa yang menghindar dari konflik
dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari sepakbola
yang harus siap sedia untuk dipermalukan.
Tetapi kultur Jawa pula yang memicu reaksi
apabila penghinaan itu terjadi di depan
umum dan sangat memalukan, maka
ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul untuk menjaga wibawa dan harga
diri. Kondisi ini yang memicu atmosfir panas
Malang–Surabaya. Geng pemuda asal
Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun
1967 memicu perasaan dendam dari Arek
Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi
posisi Malang masih dibawah Surabaya.
Sifat tidak terima Arek Malang menjadi
nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini
membuat keduanya susah berjabat tangan.
Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema
Malang, dimana Arema mengambil alih
posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.
Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika
Aji Santoso pindah dari Arema ke
Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat oleh Aremania.
Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang,
ia pun harus melalui begitu banyak tim
sebelum akhirnya mengakhiri karirnya
bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi
pun menjadi korban rivalitas Aremania- Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah
menjadi bintang sepakbola nasional dan
dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya
menawarkan Ahmad Junaedi untuk
kembali ke Arema pun ditolak oleh
Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan
Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad
Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan
kepada Bonek juga dikumandangkan.
Dengan pemilihan simbol singa
menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu,
diatas Ikan Sura dan Buaya. Arema
menjadi identitas resistensi daerah terhadap
pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek
jawa timur dengan tatanan huruf yang
dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema
menjadi identitas kultural masyarakat
Malang. Selain itu Arema juga merupakan
pemersatu warga kota Malang yang
sebelumnya terpecah pada beberapa
desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan
arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu
bondho nekad, maka arek Malang itu
bondho duwit. Ketika Bonek itu suka
membuat kerusuhan, maka Aremania ingin
menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua
kubu suporter besar Jawa Timur ini.






https://axellramadhan.wordpress.com/2013/05/16/asal-mula-perseteruan-bonek-vs-arema/






PENGGAGAS MALANG GRAFFITI > NGACHO

Rata-rata anggota Ngaco adalah pemuda berusia 18-23 tahun. Penampilan mereka terkesan semaunya. Tidak terikat aturan dan bebas berekspresi. Ciri khasnya, sepatu kets, celana ketat yang mengecil di pergelangan kaki, dan kaus oblong bertuliskan nama band underground.
Tak lupa bungkus jaket hip hop untuk melawan dinginnya malam kala mereka beraksi. Rambut dimodel semaunya: Japanese Punk, asimetris, geometrik, atau terserah pemiliknya.
Jumat (27/6) malam lalu, Enot, Abe, dan Cla, tiga di antara mereka terlihat bergaya Harajuku (model penampilan bebas ala remaja di Jepang).
Sementara JJ, sang koordinator lebih rapi. Ia gunakan jaket hitam, celana kain, potong cepak, dan sepatu sport. Mereka tengah berkumpul di sebuah warung di kawasan pusat jajanan Pulosari Kota Malang.
“Kebetulan gak ngebomber (istilah menggambar graffiti di tembok) ya begini,” ungkap JJ yang alumnus SMK 5 ini.












Soal identitas, para bomber (pelukis graffiti) ini memang sengaja ditutup. Mereka hanya mau diekspos memakai nama beken atau nama jalanan. Enot, Abe, Cla, dan JJ adalah nama beken mereka. Sementara Sleeck, Abe One, Dcl dan PD Monster adalah nama jalanan mereka masing-masing.
Soal nama asli dan domisili, mereka meminta tidak dikorankan. Sebab ini berhubungan dengan aktivitas mereka yang sebelumnya melakukan vandalisme (membuat tulisan atau gambar liar di tembok jalanan).
Selain itu, mereka sebenarnya menikmati dobel identitas yang mereka gunakan. Identitas pribadi dan identitas jalanan.
Menurut JJ, bagi banyak orang, vandalisme sering membuat geregetan. Sebab istilah vandalisme identik dengan gambar graffiti tanpa izin. Sasarannya pun semaunya para bomber. Bisa tembok milik pemerintah, tembok milik perusahaan, tembok kampung atau tembok perseorangan. Dampak kejengkelan orang lain itulah yang dihindari mereka dengan tidak membuka identitas asli.
Bahkan untuk kepentingan pemotretan koran ini, mereka meminta untuk berpose mengenakan masker atau penutup wajah.
“Kadang teman kita di kampung atau guru sekolah tidak tahu kalau kita ini yang membuat graffiti di banyak tembok Kota Malang,” ungkap Cla.
“Saya pernah dikejar satpam Playground Matos sampai nyebur got. Pas ngebomber tembok playground tanpa izin setahun lalu.
Makanya identitas harus kami sembunyikan,”sambung Enot.
Cla pernah ditangkap aparat kepolisian Polresta Malang saat menggambari tembok TMP Suropati, Jalan Bandung. Sepeda motornya diangkut polisi ke mapolresta. Akibat aktivitas vandalisme itu, dia pun harus “berdamai” Rp 200 ribu dengan oknum.
“Dulu kami dikejar-kejar polisi atau satpam. Masa sekarang ngaku,”ungkap remaja 18 tahun ini.



Komunitas Ngaco punya peran besar dalam memasyarakatkan graffiti di kalangan remaja Kota Malang. Sebelum tahun 2006, di saat tembok-tembok masih beku, masing-masing anggota Ngaco meluapkan ekspresi mereka. Dengan melakukan tagging (graffiti tulisan identitas) atau vandalisme tulisan dan gambar, mereka memberikan warna pada tembok-tembok (istilahnya spot) itu.
Grafiti, seperti dalam Wikipedia, adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng (aerosol). Berbeda dengan mural yang berupa gambar atau lukisan ditembok yang lebih banyak menggunakan cat kayu, cat besi, cat tembok dan kuas.
Komunitas beranggotakan tujuh personel ini terbentuk 9 April 2006 lalu. Kebetulan Jumat malam itu, hanya empat orang yang bisa berkumpul. Dengan berbagai latar belakang anggotanya (saat itu semuanya masih duduk di bangku SMA/SMK), mereka bisa menyatu. Kegemaran dan hobby mereka ber-graffiti bisa mempertemukan satu dengan lainnya.
Peran situs http://www.tembokbomber.com ikut mempertemukan mereka. Situs itu adalah forum pelaku graffiti se-Indonesia. Mereka semua adalah membernya. “Kita semua kan pernah upload ke tembokbomber. Kenal di dunia maya, lalu kami bertemu dan bentuk komunitas Ngaco,” ungkap JJ.
JJ sendiri terjun ke dunia graffiti karena senang musik hip-hop. Salah satu unsur musik ini adalah graffiti di tembok. Korban pertamanya adalah tembok di milik tetangga di kampungnya. Sedangkan Enot terinspirasi dari kegemarannya melihat aktivitas komunitas skate board. Dinding kamarnya jadi spot pertama untuk berekspresi. Selanjutnya tembok Pemerintah Kota Malang di tempat-tempat umum jadi korban.

Sementara Abe terpikat graffiti karena keseringannya memainkan game Tony Hawk’s di PS-2 (game bertema skater). Dan Cla terinspirasi dari gambar dan foto-foto soal graffiti. Tembok pasar Dinoyo yang jadi media ekspresi bebas untuk kali pertamanya.
“Saat di jalanan, cat semprot beli sendiri. Modal tidak apa-apa tapi puas,” ungkap Abe yang kini tengah menunggu ujian masuk perguruan tinggi ini.
Enam bulan terakhir ini, mereka mengaku mulai dewasa dalam mengembangkan aktivitas graffiti di Kota Malang. Mereka mulai jenuh dengan aktivitas vandalisme dan mulai mengarah pada graffiti komersial (jasa menggambar). Mulai dari graffiti di rolling door, tembok kosong perumahan, hingga kamar remaja.
Agar tetap bisa berekpresi di jalanan, tetapi tidak menganggu properti orang lain, mereka kini memilih jalan graffiti legal. Caranya, dengan mengajukan izin ke pemilik properti. Idur, salah seorang dari mereka ditunjuk sebagai tim sukses dan petugas survei spot. Idur harus izin ke RW, kelurahan, atau pihak pemilik properti. Kalau oke, maka para bomber pun bisa beraksi dengan legal.
“Contohnya ya di Stasiun Blimbing tiga minggu lalu,” kata Idur.
“Itu semua legal,” imbuh karyawan distribusi aksesoris ponsel ini.
Para personel Ngaco pun membentuk komunitas lebih besar yang diberi nama Must. Komunitas ini untuk mengumpulkan para bomber junior yang kini banyak bermunculan. Tujuannya agar para bomber tidak saling merusak karya sesama bomber. Tujuan lain, kalau bisa, karya graffiti yang diciptakan malah bisa memperindah penampilan kota.
Peran Idur cukup besar. Dia harus mencarikan spot-spot kosong untuk ekpresi bomber yang kini sudah mencapai 25 kru (sebutan untuk setiap kelompok bomber). Karena tugas beratnya itu, dia butuh masyarakat memberikan legalitas. Toh karya graffiti apabila dikerjakan secara legal dan dibina bisa memperindah penampilan kota. “Vandalisme sulit untuk distop 100 persen. Itu sudah dari sejarahnya,” kata Idur. (*/ing/radar-malang)











sumber : https://indonesianic.wordpress.com/2008/06/30/komunitas-graffiti-jalanan-penggagas-malang-urban-street-trouble/

Jumat, 27 Januari 2017

SEJARAH GRAFFITI DI INDONESIA



KARYA : RUNE(YK)

Graffiti sudah mulai ada sejak zaman purba, dahulu masih berupa coretan-coretan biasa di dinding. Kemudian graffiti terus berkembang di zaman Mesir Kuno dan Romawi. Akan sangat panjang jika kita membahas sejarah graffiti secara lengkap! Lalu bagaimana dengan sejarah graffiti di Indonesia sendiri?
Di Indonesia, pada masa perang kemerdekaan graffiti menjadi alat propaganda yang efektif dalam menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda. Keberanian menuliskan graffiti bisa jadi mempertaruhkan nyawa si pelakunya. Pelukis Affandi misalnya pada masa peperangan melawan penjajahan pernah membuat slogan yang dia buat sendiri yang bertuliskan ”Boeng Ajo Boeng!”. Dia menuliskannya di tembok-tembok jalanan.
Sejarah graffiti Indonesia modern juga tidak bisa terlepas dari peran tembokbomber.com, sebuah website komunitas street art terbesar di Indonesia. Tembokbomber ini bermula dari sebuah thread diskusi berjudul STREET ART di sebuah forum desain grafis lokal bernama Godote Forum. Thread tersebut dimulai oleh Darbotz, yang saat ini dikenal sebagai salah satu street artist ternama. Thread yang membahas segala sesuatu tentang street art ini sangat ramai dan digemari. Mulai dari posting foto-foto graffiti, membahas teknik stensil, atau sekedar berkomentar. Pada tahun 2003, atas dasar ketertarikan yang sama terhadap street art, Aram (Wormo – Toter/FAB Family) berinisiatif mengajak beberapa member Godote Forum yang sering meramaikan thread street art tersebut untuk membuat sebuah mailing list, khusus untuk membahas lebih mendalam tentang street art. Orang-orang tersebut adalah Darbotz, Randy, Booi (RangerBastards), Godo (VektorJunkie), Grompol (mantan Art Director di Wadezig!) dan Ing (Creative Director/Co-founder  Wadezig!).
Selain berdiskusi di milis, orang-orang ini juga dikenal telah aktif turun ke jalan, dan menjadi awal dari mewabahnya street art di Indonesia. Darbotz dengan stensil-stensil terorisnya yang kontroversial, atau Grompol yang memenuhi kota Jogja dengan stensil-stensil provokatif, dan Aram dengan wheatpaste karakter cacing betonnya. Stereoflow dan Shake dari FAB Family juga dikenal sebagai salah satu pionir graffiti di Bandung. Saat itu mereka berdua dikenal sebagai Tag Team.


KARYA : BAKORE(MLG) RACON(BATU) DOLS(MLG) DASKEE(SBY) DAN BLESSMOKIE

Sejak itu, pergerakan street art di Indonesia berkembang dengan sangat cepat. Karya-karya Darbotz mulai banyak dibicarakan. Graffiti-graffiti bagus mulai bermunculan. Di jalanan kota Jakarta, Bandung, Jogja, dan kota-kota lainnya mulai banyak terlihat berbagai macam seni jalanan, mulai dari graffiti, stensil, mural, wheatpaste, karakter, dan lain-lain. Perkembangannya yang sangat pesat ini membuat Ke-7 orang yang ada di mailinglist tadi mulai merasakan perlunya wadah atau tempat untuk memamerkan karya-karya jalanan ini. Sebagaimana diketahui, seni jalanan ini umurnya sangat pendek. Hari ini digambar, besok ditimpa oleh gambar lain. Namanya juga ruang publik, jadi siapapun berhak melakukan apa saja.
Terinspirasi dari woostercollective.com, pada tahun 2004 mereka pun membuat sebuah website yang berfungsi untuk mendokumentasikan karya-karya seni jalanan ini sekaligus menjadi wadah komunikasi antar sesama seniman jalanan. Tidak hanya berupa blog, tembokbombr.com juga membuat sebuah forum khusus street/urban arts. Komunitas yang tadinya terpecah-pecah, akhirnya disatukan pada satu forum. Tidak ada keanggotaan, atau eksklusivitas. Siapapun yang merasa melakukan kegiatan seni rupa di jalanan, boleh meng-klaim dirinya sebagai anggota tembokbomber.
Sepanjang 2005-2009 event-event urban/street art mewabah di Indonesia. Diawali oleh Medium Rare, acara pameran urban art yang diprakarsai oleh Whatnot X Tembokbomber X Footurama, sampai event internasional, Sneaker Pimps. Selama masa itu, banyak sekali bermunculan street artists atau crew yang kemudian memiliki nama besar, bahkan hingga saat ini. Sebut saja Darbotz, TotalTerror, FAB Family, Artcoholic, MASE, UBC, KMC, dan masih banyak lagi. Sejarah graffiti/street art Indonesia masih terus terukir hingga saat ini. Wadezig! yang merupakan bagian dari sejarah street art Indonesia ingin terus berkontribusi dan mendukung perkembangan street art karena itu adalah akar dan “playground” Wadezig! sendiri.
DONT FORGET GRAFFITI IS NOT CRIME , GRAFFITI IS NOT VANDALSM







SUMBER ARTIKEL :http://www.wadezig.com/